Riset Kesehatan

Patient experience di rumah sakit: cara mengukur dan meningkatkannya

Patient experience di rumah sakit: cara mengukur dan meningkatkannya

Patient experience mencatat pengalaman pasien di sepanjang layanan rumah sakit, termasuk komunikasi, kenyamanan, kejelasan informasi, dan empati staf. Konsep ini berbeda dari kepuasan pasien. Rumah sakit dapat mengukurnya lewat survei, wawancara, dan observasi, lalu memakai hasilnya untuk memperbaiki layanan.

Rumah sakit sering mengukur mutu layanan lewat hasil klinis seperti angka kesembuhan, tingkat infeksi, dan ketepatan diagnosis. Namun, ukuran itu belum menjawab bagaimana rasanya menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Patient experience, atau pengalaman pasien, mencakup perjalanan sejak pendaftaran dan waktu tunggu sampai percakapan dengan dokter, perawat, serta proses pulang. Pengukurannya melihat komunikasi, kenyamanan fasilitas, kejelasan informasi pengobatan, dan empati staf kepada pasien yang sedang cemas atau kesakitan.

Rumah sakit di Indonesia kini semakin sadar bahwa pengalaman pasien tidak bisa diperlakukan sebagai urusan "layanan pelanggan" yang ditangani belakangan. Ini berkaitan langsung dengan kepercayaan pasien, kepatuhan pada pengobatan, dan reputasi rumah sakit di tengah masyarakat yang makin kritis memilih tempat berobat. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 memperbarui standar akreditasi rumah sakit dan menekankan keterbukaan data kinerja layanan yang bisa diakses publik, termasuk data pengalaman dan kepuasan pasien. Kondisi ini membuat riset patient experience yang terstruktur semakin dibutuhkan.

Intinya

  • Patient experience adalah pengalaman pasien di sepanjang perjalanan layanan, komunikasi, kenyamanan, kejelasan informasi, dan empati staf, berbeda dari kepuasan pasien yang sifatnya lebih umum dan subjektif.
  • Rumah sakit di Indonesia perlu mengukurnya karena tuntutan akreditasi, persaingan antar rumah sakit swasta, dan ekspektasi pasien yang terus naik.
  • Dimensi utama yang diukur meliputi komunikasi dengan dokter/perawat, kejelasan informasi pengobatan, kenyamanan fasilitas, kecepatan pelayanan, dan proses administrasi.
  • Metode riset yang umum dipakai: survei pasca-kunjungan, wawancara mendalam dengan pasien dan keluarga, serta observasi atau mystery patient.
  • Hasil riset baru bernilai kalau ditindaklanjuti dengan perbaikan konkret, bukan sekadar dilaporkan sebagai angka.
Patient experience di rumah sakit: cara mengukur dan meningkatkannya

Apa itu patient experience dan bedanya dengan kepuasan pasien

Patient experience adalah catatan objektif tentang apa yang benar-benar terjadi selama pasien berinteraksi dengan layanan kesehatan, misalnya apakah dokter menjelaskan diagnosis dengan bahasa yang bisa dipahami, apakah perawat datang tepat waktu saat dipanggil, atau apakah proses pendaftaran berbelit-belit. Kepuasan pasien (patient satisfaction), di sisi lain, adalah penilaian subjektif pasien terhadap layanan yang diterima, yang sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pribadi masing-masing orang.

Bedanya penting secara praktis. Dua pasien bisa mengalami hal persis sama, misalnya menunggu 40 menit sebelum bertemu dokter, tapi satu merasa puas karena memang tidak berharap cepat, sementara yang lain kecewa. Kalau rumah sakit hanya mengukur kepuasan, sulit tahu bagian mana dari layanan yang perlu diperbaiki. Kalau rumah sakit mengukur pengalaman secara spesifik, apa yang terjadi, kapan, dan bagaimana, hasilnya jauh lebih bisa ditindaklanjuti. Riset pasar pada dasarnya bekerja dengan logika yang sama: mengukur perilaku dan kejadian nyata, bukan hanya kesan umum, supaya rekomendasinya jelas dan bisa dieksekusi.

Kenapa rumah sakit di Indonesia perlu mengukur patient experience

Akreditasi, persaingan antar rumah sakit, dan perubahan ekspektasi pasien membuat pengukuran patient experience makin relevan di Indonesia.

Standar akreditasi rumah sakit yang diperbarui Kemenkes pada 2024 memasukkan unsur transparansi kinerja layanan sebagai bagian dari penilaian. Rumah sakit yang punya data pengalaman pasien yang terstruktur, bukan hanya kotak saran di lorong rawat inap, akan jauh lebih siap menghadapi proses ini.

Persaingan antar rumah sakit swasta semakin ketat. Di kota-kota besar, pasien punya banyak pilihan rumah sakit dengan fasilitas medis yang setara secara klinis. Dalam situasi itu, faktor pembeda sering kali bukan lagi soal alat medis atau dokter spesialis, tapi soal bagaimana pasien diperlakukan, seberapa jelas informasi yang diberikan, seberapa nyaman ruang tunggu, seberapa ramah proses administrasinya. Riset akademik Indonesia sendiri sudah menunjukkan keterkaitan ini: penelitian di Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia terhadap pasien rawat jalan di sebuah klinik menemukan bahwa pengalaman pasien yang positif berhubungan signifikan dengan loyalitas pasien (nilai p sebesar 0,014). Pasien yang mengalami layanan dengan baik cenderung kembali dan merekomendasikan tempat itu kepada orang lain.

Ekspektasi pasien juga terus meningkat. Survei independen yang dikutip BPJS Kesehatan pada awal 2024 mencatat kenaikan tingkat kepuasan peserta JKN dari 80 persen menjadi 89 persen dalam beberapa tahun terakhir, sebuah tren positif, tapi juga sinyal bahwa standar layanan yang dianggap "cukup baik" oleh pasien terus bergerak naik. Rumah sakit yang tidak mengukur secara berkala berisiko tertinggal dari ekspektasi yang terus berubah ini tanpa menyadarinya.

Dimensi yang diukur dalam riset patient experience

Riset patient experience perlu mengukur lebih dari pertanyaan "puas atau tidak puas". Ia memecah perjalanan pasien menjadi beberapa dimensi konkret yang masing-masing bisa diukur dan diperbaiki secara terpisah:

  • Komunikasi dengan dokter dan perawat: apakah penjelasan diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami, apakah pasien diberi kesempatan bertanya, dan apakah nada bicara staf terasa menghargai pasien.
  • Kejelasan informasi pengobatan: apakah pasien memahami diagnosis, rencana pengobatan, efek samping obat, dan langkah perawatan lanjutan setelah pulang.
  • Kenyamanan fasilitas: kebersihan ruang tunggu dan ruang rawat, ketersediaan tempat duduk, suhu ruangan, hingga akses toilet dan mushola.
  • Kecepatan pelayanan: waktu tunggu di setiap titik, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, pengambilan obat, sampai proses pulang.
  • Proses administrasi: kemudahan pendaftaran, kejelasan alur klaim BPJS atau asuransi, dan transparansi biaya sejak awal.

Memecah pengalaman menjadi dimensi-dimensi ini penting karena rumah sakit bisa unggul di satu area dan lemah di area lain. Sebuah rumah sakit bisa punya dokter yang komunikatif tapi proses administrasinya berbelit-belit, dan tanpa riset yang memecah dimensi ini, masalah administrasi itu bisa tersembunyi di balik skor kepuasan keseluruhan yang terlihat baik-baik saja.

Metode untuk mengukur patient experience

Survei, wawancara, dan observasi menangkap bagian yang berbeda dari pengalaman pasien.

Survei pasca-kunjungan. Dikirim lewat SMS, WhatsApp, atau email tak lama setelah pasien selesai berobat, saat pengalamannya masih segar di ingatan. Survei ini cocok untuk mengukur skor pada tiap dimensi secara kuantitatif dan bisa dipantau dari waktu ke waktu untuk melihat tren.

Wawancara mendalam dengan pasien dan keluarga. Survei memberi angka, tapi wawancara memberi konteks di balik angka itu. Pasien rawat inap dan keluarga yang menunggui biasanya punya cerita detail tentang momen ketika mereka merasa diabaikan, atau sebaliknya, momen ketika seorang perawat melakukan hal kecil yang sangat berarti. Cerita semacam ini sering jadi sumber ide perbaikan yang tidak akan pernah muncul dari angka survei saja.

Mystery patient atau observasi langsung. Peneliti berperan sebagai pasien atau pengantar pasien untuk mengalami sendiri alur layanan dari awal sampai akhir, lalu mencatat secara objektif apa yang terjadi di setiap titik. Metode ini berguna untuk menangkap masalah yang mungkin tidak disadari staf rumah sakit sendiri karena sudah terlalu terbiasa dengan alur kerja mereka sehari-hari.

Cara menindaklanjuti hasil riset patient experience

Hasil riset baru berguna ketika rumah sakit mengubahnya menjadi perbaikan layanan.

Pilah temuan berdasarkan dimensi dan unit layanan. Jika skor komunikasi rendah khusus di unit gawat darurat, fokuskan perbaikan ke unit itu. Sampaikan hasilnya kepada dokter, perawat, dan petugas administrasi yang berhubungan langsung dengan pasien. Rumah sakit kemudian dapat menetapkan target perbaikan untuk periode berikutnya dan mengulang riset secara berkala untuk melihat apakah pasien merasakan perubahannya.

Pertanyaan umum

Apakah patient experience sama dengan customer service?

Tidak sama, meski berkaitan. Customer service biasanya fokus pada interaksi transaksional seperti keluhan atau permintaan bantuan. Patient experience mencakup keseluruhan perjalanan klinis dan non-klinis pasien, termasuk hal-hal yang tidak pernah disampaikan sebagai keluhan tapi tetap memengaruhi persepsi pasien terhadap kualitas layanan.

Berapa lama proses riset patient experience biasanya berlangsung?

Tergantung cakupannya. Survei pasca-kunjungan bisa berjalan terus-menerus sebagai bagian dari operasional rutin, sementara riset mendalam yang menggabungkan wawancara dan observasi biasanya memakan waktu beberapa minggu hingga dua bulan, tergantung jumlah unit layanan yang dicakup.

Apakah rumah sakit kecil atau klinik juga perlu riset seperti ini?

Perlu, bahkan bisa jadi lebih penting. Rumah sakit dan klinik yang lebih kecil sering bersaing justru lewat kedekatan dan kualitas layanan personal, bukan lewat kelengkapan alat medis. Mengetahui secara pasti di titik mana pengalaman pasien lemah akan membantu mereka mempertahankan keunggulan itu.

Apakah data BPJS atau data internal rumah sakit saja sudah cukup, tanpa riset tambahan?

Belum cukup. Data administratif seperti waktu tunggu atau jumlah keluhan tercatat memang berguna, tapi tidak menangkap dimensi seperti kejelasan komunikasi atau empati staf yang hanya bisa diketahui lewat survei, wawancara, atau observasi langsung terhadap pengalaman pasien.

DEKA Insight menggunakan survei terstruktur, wawancara mendalam, dan observasi lapangan untuk membantu rumah sakit memahami pengalaman pasien dan memperbaiki layanannya. Untuk membahas pengalaman pasien di rumah sakit atau klinik Anda, hubungi tim DEKA Insight lewat halaman kontak, atau lihat pendekatan riset kami secara lebih luas di halaman solusi.

Interested in research for your brand?

DEKA Insight helps Indonesia's leading brands make better decisions with actionable consumer insights.

Get in Touch